Rabu, 29 Oktober 2014

ARSITEKTUR MODERN TIPE CUBISM


Ø Eklektikisme: terdapat kecenderungan untuk mencampur adukkan semua jenis gaya
arsitektur, terkadang tanpa mengindahkan kaidah komposisi dan
estetika.
Ø Neo Klasik: hanya mengambil satu bentuk/gaya arsitektur klasik Yunani atau
Romawi, dengan proses, teknologi dan material baru.
Beberapa latar belakang yang mempengaruhi masa transisi dari periode arsitektur eklektik ke periode arsitektur modern awal, sebagai cikal bakal arsitektur modern yang berkembang selanjutnya adalah kejenuhan terhadap keglamoran dan kepalsuan bentuk akibat terlalu bersoleknya arsitektur—akibat banyaknya ornamen—pada periode sesungguhnya. Hal ini memunculkan adanya ide baru terhadap gaya arsitektur, yang dijadikan pegangan dalam perkembangan arsitektur modern. Ide-ide itu adalah:
Ø Kesederhanaan
Penggunaan bentuk abstrak yang sederhana atau geometris murni. Biasanya menggunakan bentuk-bentuk dasar lingkaran, bujur sangkar, dan segitiga.
Ø Ke-murni-an (puris)
Menciptakan hal yang baru tanpa mencontoh / menjiplak periode terdahulu. Kecenderungan untuk tidak bersikap pragmatis dan iconic ini merupakan suatu upaya untuk memutuskan rentetan kejadian arsitektur masa lalu, terutama dalam pemciptaan bentuk yang benar-benar baru.
Ø Universalitas (global)
Karena kesederhanaan bentuk maka bentuk yang terjadi dapat diterima semua kalangan, baik yang berada di satu wilayah yang sama maupun yang berbeda wilayah. Hal ini membuat arsitektur modern tampil polos dengan bentuk geometri saja. Tidak ada pembedaan langgam/style pada daerah yang berbeda.
Ø Antilokalitas dan Romantisme
Bentuknya sama dimanapun arsitektur itu berada (berkaitan dengan universalitas), lugas, tanpa kesempatan untuk “berpuisi ria”. Antilokalitas juga merupakan suatu upaya untuk melepaskan diri dari pengaruh arsitektur periode sebelumnya yang mengedepankan simbol-simbol vernakular.
Ø Kesan bangunan steril dan anti ornamen atuau order (langgam)
Tampangnya bersih tanpa ada ornamen atau langgam-langgam. Tidak mempunya identitas, sebagai akibat dari sikap arsitek pada masa itu yang “alergi” terhadap nilai kelokalan dan kepalsuan akibat ornamen.
Ø Asimetris
Suatu upaya untuk membuang image arsitektur pra-modern yang selalu digambarkan kaku, terikat pada kaidah-kaidah simetri. Sebagai hasilnya, arsitektur yang terjadi lebih bersifat dinamis.
Ø Teknologi dan material
Menggunakan cara atau proses baru yang berbeda dari arsitektur sebelumnya, di samping itu juga didapatkan temuan material baru seperti beton bertulang (reinforced concrete), besi, baja dan lain-lain. Selain itu teknologi pengolahan baru
Ø Sosialistik
Terkesan merakyat (tidak borjuis) karena bentuknya yang sederhana dan tanpa ornamen
Adanya ide-ide baru inilah membuat arsitektur modern menerima banyak kritikan di tahun 1970, karena arsitektur ini dinilai tidak mempunyai identitas, tidak memiliki ekspresi, serta tidak modis.
Terdapat dua ciri umum yang menjiwai periode modern yaitu:
1. Fungsionalisme
Pada era pra modern, yang dianggap sebagai arsitektur hanyalah bangunan-bangunan gereja dan istana. Bangunan diluar kedua tipe bangunan tersebut (seperti perumahan) tidak dianggap sebagai suatu arsitektur. Pada era modern timbul aktivitas-aktivitas baru yang membutuhkan wadah akibat dampak dari revolusi industri. Mulai bermunculan bangunan-bangunan pabrik, perkantoran, dan sebagainya.
Sebagai akibat Revolusi Industri, cara produksi bergeser dari teknik individual yang cenderung custom made, menjadi teknik produksi massal yang mengedepankan kebutuhan akan produk yang cepat dan murah. Pada sudut pandang arsitektur, hal ini ditandai dengan adanya kebutuhan akan pemukiman yang murah dan efisien.
Fungsionalisme kemudian timbul atas latar belakang di atas. Arsitektur modern mengedepankan fungsi dimana suatu arsitektur dapat mewadahi aktivitas. Berbeda dengan arsitek pada masa pra modern yang menata berdasarkan tipologi, arsitek modern menata berdasarkan fungsi.
2. Purisme
Purisme berasal dari akar kata pure (murni). Pada era modern arsitekturnya berusaha menjaga kemurnian bentuk geometrikal yang lepas dari ornamen-ornamen seolah-olah arsitektur modern alergi terhadap ornamen. Bentuk harus ditampilkan dengan sejujur-jujurnya (anti kamuflase).
Kecenderungan pada era ini adalah bahwa selama fungsi struktural dapat terpenuhi maka fungsi estetika boleh diabaikan. Hal ini menyebabkan tipe-tipe bangunan pada jaman ini hampir sama hanya dibedakan dari fungsinya saja ( bentuk merupakan nomor dua setelah fungsi )

a. KUBISME tahun 1910
Arsitektur dianggap merupakan salah satu cabang dari seni rupa dan terpengaruh dengan trend seni rupa yang dipopulerkan oleh Pablo Picasso. Cirinya :
§ Geometrisasi fenomena alam, tidak tampil realistik
§ Memperlihatkan bagaimana benda-benda dipengaruhi oleh cahaya
§ Banyak mempermainkan unsur panjang lebar tinggi yang dikomposisikan dengan cahaya (baik alam maupun buatan)
§ Mengganggap arsitektur adalah rancangan ruang bukan kulit. Yang dirancang adalah volume bukan tampilan dari bidang-bidangnya
§ Mengganggap arsitektur adalah sebagai wadah atau kontainer dari suatu aktivitas.
Arsitek yang terkenal dari gaya ini:
Ø Le Corbusier
Arsitektur dianggap sebagai mesin hidup (living machine), yang terdiri dari bagian-bagian yang merupakan sebuah sistem dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (sistem pencahayaan, sistem struktur, dan sistem utilitas).
Falsafahnya tentang arsitektur adalah menciptakan rasa aman, keramah tamahan, kebahagiaan serta kesatuan yang harmonis dari bentuk-bentuk yang ada di bumi ini dan hubungannya dengan skala manusia. Selain itu desainnya dipengaruhi oleh bentuk-bentuk geometris, penggunaan beton eksposed dan permainan bayangan (seperti seni patung)
Ø Frank Lloyd Wright
Dengan paham dasar 
organic architecture, arsitektur diang-gap sebagai unsur organik dari alam (naturally). Karyanya yaitu museum Guggenheim di New York didisain seperti “siput beton”—spiral yang ber-kelanjutan naik dari lantai sampai keatas. Sedang dalam karyanya yaitu Johnson Administration Building kolom beton bertulangnya berbentuk seperti bunga lili . Lantainya berbahan pirex glass yang memberikan cahaya difus, jadi pengunjung yang datang seakan-akan membayangkan dirinya berada di dalam kolam dan di bawah naungan bunga-bunga Lili. Dalam mengembangkan semangat Purisme, Wright selalu menunjukkan keaslian karakteristik materialnya, “Dimana batu digunakan sebagai batu, kayu sebagai kayu dan kaca sebagai kaca”. Pengaplikasian konsep ini dapat kita lihat pada Fallingwater. Unutuk menunjang kesan Natural bangunan yang berdiri di atas air terjun ini, material lantai dan dindingnya adalah batu alam.


Konsep Kubisme yaitu permainan unsur vertikal dan horisontal yang juga dimasukkan dalam karya ini. Hal ini terlihat pada permainan-permainan kantilever-kantilever betonnya.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar