Senin, 09 April 2012

BERITA BOLA TERBARU


UEFA Halalkan Kontroversi Demi Skenario Ideal?

sumber : super soccer


Mungkinkah skenario ideal di semi-final Liga Champions musim ini merupakan hasil kerja UEFA?

Jadi, keempat tim yang berhasil mencapai babak semi-final Liga Champions 2011/12 sudah ditentukan. Barcelona, yang berhasil menaklukkan AC Milan dengan agregat 3-1, akan bertemu dengan tim yang memiliki segudang dendam dengan mereka, Chelsea, yang berhasil mengalahkan Benfica dengan skor 3-1. Sementara itu, semi-final lainnya akan mempertemukan Real Madrid, yang berhasil membunuh mimpi APOEL Nicosia dengan agregat 8-2, dan Bayern Munich, yang mengandaskan Olympique Marseille dengan agregat 4-0.
Hal yang paling menarik dari hal ini bukanlah fakta bahwa inilah skenario paling ideal yang sudah diramalkan sejak pengundian babak perempat-final lalu, tetapi bagaimana skenario ini akhirnya bisa menjadi kenyataan. Tak mulus, memang. Skenario ideal ini, pada kenyataannya, memerlukan kontroversi untuk bisa menjadi kenyataan di fase semi-final nanti.
Real Madrid dan Bayern Muenchen tanpa kesulitan berhasil melaju ke babak semi-final, karena di atas kertas, mereka memang jauh lebih unggul dibandingkan lawan-lawan mereka di babak delapan besar. APOEL memang fenomena baru di musim ini, namun keajaiban pun ada batasnya. Sementara Muenchen yang musim ini sulit dihentikan di Liga Champions, jelas bukan tandingan Marseille, yang sedang terluka di Ligue 1.
Namun hal yang sedikit berbeda terjadi pada Barcelona dan Chelsea. Barcelona memang masih lebih superior daripada AC Milan, namun bukan berarti mengalahkan jawara Italia ini merupakan hal yang mudah dilakukan. Setelah hanya meraih hasil seri di San Siro, Blaugrana membutuhkan dua penalti di laga leg kedua di Camp Nou untuk mampu menaklukkan Il Diavolo Rosso. Penalti kedua Barca pun dinilai sangat kontroversial sehingga menjadi bahan pembicaraan banyak orang hingga hari ini.
Lima menit sebelum babak pertama berakhir, Barcelona mendapatkan tendangan penjuru. Alessandro Nesta yang menjaga gelandang Barca, Sergio Busquets, menjatuhkan Busquets di dalam kotak penalti, tepat ketika bola ditendang oleh Xavi. Namun di saat yang sama, Nesta pun ditarik oleh Carles Puyol sehingga Nesta pun kehilangan keseimbangan. Wasit menunjuk titik putih, dan memberi kartu kuning kepada Barcelona. Hal ini pun membuat kubu Milan protes. Milan menilai Xavi belum menendang bola ketika Nesta melanggar Busquets, dan jika pun itu tetap pelanggaran, Puyol pun seharusnya dinyatakan melakukan pelanggaran karena kapten Barca itu pun menarik Nesta.
Messi pun mengeksekusi penalti dengan baik, dan penalti tersebut langsung merubuhkan kepercayaan diri para pemain Milan. Pasca pertandingan, Massimiliano Allegri mengatakan, "Sulit untuk masuk ke ruang ganti saat jeda dengan dihukum penalti seperti itu."
Kontroversi yang sama juga terjadi di partai Chelsea melawan Benfica pada Kamis dini hari (5/4). Wasit Damir Skomina tak hanya memberikan penalti kepada Chelsea di pertengahan babak pertama, tetapi juga memberi kartu merah kepada Maxi Perreria dan membuat Benfica harus bertarung dengan 10 pemain saja. Dua keputusan ini, plus keputusan-keputusan lain yang dinilai terlalu menguntungkan satu-satunya wakil Inggris yang tersisa tersebut, membuat kubu Benfica geram.
"Kartu merah Maxi Perreira dan penalti Chelsea adalah hal yang tak masuk akal. Kami tidak mengerti bagaimana keputusan seperti ini dibuat di babak perempat-final. Kami benar-benar dirugikan oleh wasit," kata pelatih Benfica, Jorge Jesus.
Kedua kontroversi ini pun membuat datangnya banyak dugaan soal "keberpihakan" UEFA terhadap tim-tim tertentu. Dan bukan kali ini saja isu mengenai hal tersebut muncul. Bukankah pada tahun 2009, kubu Chelsea yang merasa dirugikan karena disingkirkan Barcelona secara kontroversial di babak semi-final juga memprotes hal yang sama? Didier Drogba bahkan dengan penuh amarah, lantang mengatakan di depan kamera, "It's a f**king disgrace!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar